Riset Ungkap: Profesi Mengajar Dapat Memicu Masalah Kesehatan Fisik - Ken Waras
News Update
Loading...

Senin, 14 April 2025

Riset Ungkap: Profesi Mengajar Dapat Memicu Masalah Kesehatan Fisik

Info Seputar AI– Bekerja sebagai pendidik tentu saja mengharuskan seseorang untuk membuat banyak pengorbanan, mulai dari aspek emosi, pikiran, sampai keuangan. Tiga elemen tersebut pada dasarnya adalah tantangan konstan yang dihadapi oleh para guru dalam melaksanakan tugasnya.

Melansir yourtango.com, Guru dituntut untuk mengabdikan diri sepenuhnya dalam mendidik dan memandu anak-anak bangsa. Akan tetapi, ada aspek penting yang kerapkali diabaikan serta kurang diperbincangkan, yakni pengaruh profesi tersebut kepada kondisi kesejahteraan jasmani para pendidik.

Kelsie Marks, sebelumnya seorang guru yang saat ini aktif sebagai pembuat konten dan juga co-founder dari EducatedExit, organisasi yang mendukung guru dalam menemukan karir di luar bidang pendidikan, menyampaikan pemikirannya mengenai situasi tersebut.

Menurut dia, banyak guru yang masih bertahan dalam profesinya sampai pada akhirnya merasa lelah dan mau mengaku bahwa mereka tak dapat melanjutkannya lebih lanjut.

" Salah satu poin yang kami dan tim EducatedExit saksikan ialah para guru mencoba bertahan sebisa mungkin, namun pada akhirnya hingga ke tahap di mana mereka mengaku, 'Saya tak sanggup lagi,' " jelas Marks dalam postingan videonya di aplikasi TikTok.

Menghilangnya Waktu Untuk Diri Sendiri

Dalam tugasnya, seorang guru, sama halnya dengan konselor sekolah ataupun psikolog sekolah, dituntut untuk tetap sigap dan berkonsentrasi selama seharian penuh.

Sayangnya, hal tersebut kerap kali menyebabkan mereka meninggalkan keperluan diri sendiri, termasuk yang terpenting seperti memakan makanan atau bahkan untuk menggunakan kamar mandi.

"Guru, konselor sekolah, serta psikolog sekolah dituntut untuk senantiasa ada, dan saat mereka berada di tempat tersebut, mereka perlu meletakkan kepentingan diri sendiri pada posisi kedua setelah keperluan para murid," jelas Marks.

Dampak pada kesehatan fisik

Stres yang dirasakan oleh para guru selama proses pengajaran bisa menimbulkan inflamasi di dalam tubuh, sehingga meningkatkan risiko beragam jenis penyakit. Tak mengherankan jika banyak dari mereka menderita kondisi kesehatan jangka panjang semacam sakit pada persendian, disfungsi sistem pencernaan, serta keluhan pada otot dan tulang.

Sebuah penelitian di Inggris Menunjukkan bahwa tingkat stres yang tinggi di antara para guru terkait erat dengan beragam permasalahan kesehatan fisik, termasuk keluhan pada otot dan tulang, gangguan pencernaan, migrain, bahkan kondisi yang lebih parah seperti disfungsi hormonal dalam tubuh.

Kondisi tersebut, dikenal sebagai disfungsi pada sumbu hipotalamus-pituitary-adrenal (HPA axis), muncul lantaran tingkat hormon kortisol di dalam tubuh tak teratur dikarenakan adanya tekanan kronis.

Ketidakseimbangan hormonal tersebut bisa memperbesar kemungkinan menderita penyakit jantung, stroke, disfungsi sistem imun, bahkan issue dengan metabolisme seperti kesulitan menjaga berat badan. Lebih lanjut, banyak guru yang kerap alami kelainan pada suara akibat tekanan kronis.

"Apabila kita mengharuskan seorang profesional untuk selalu menjadikan kebutuhan orang lain lebih utama daripada kebutuhannya pribadi setiap harinya, lantas membayarnya secara rendah dan memperlakunya tanpa rasa hormat, maka wajar bila pada akhirnya para individu tersebut akan meninggalkan pekerjaannya," ungkap Marks.

Peningkatan apresiasi terhadap karier pendidik

Berdasarkan riset yang dijalankan oleh Saidun Hutasuhut dkk. (2025) pada jurnalkom Future Academia ,Meningkatkan rasa hormat terhadap jabatan guru merupakan salah satu tindakan vital yang bisa memperbaiki kondisi finansial mereka.

Dalam berbagai negara, guru dilihat sebagai pekerjaan yang amat disegani, dengan upah yang menunjukkan betapa krusialnya tugas mereka dalam memajukan pendidikan nasional. Misalnya saja di Jepang, gaji pokok seorang guru umumnya mencapai angka Rp 38 juta setiap bulannya, hal ini menjadi bukti bahwa pemerintah menghargai sepenuh hati status profesinya tersebut.

Walau telah dilakukan banyak usaha untuk memperbaiki kondisi kehidupan para guru, tetap saja terdapat perbedaan yang cukup luas dalam hal kesejahteraan antara guru-guru di sekolah negeri dengan swasta, serta juga antara mereka yang mengajar di pusat kota dan di pedalaman.

Perbedaan ini mengindikasikan bahwa upaya meningkatkan kesejahteraan guru perlu ditingkatkan lagi supaya karier ini menjadi lebih menjanjikan dan bisa memikat anak muda untuk bergabung dalam bidang pendidikan.

Permasalahan terbesar yang dialami ialah upah rendah yang didapat oleh para guru honorer serta instruktur di sekolah swasta, yang umumnya kurang untuk pemenuhan keperluan sehari-hari. Disertai dengan tugas pekerjaan yang berat, banyak pendidik merasakan lelah, baik dari segi badani ataupun jiwa, hal ini pada gilirannya dapat menurunkan mutu pembelajarannya.

Di samping itu, bobot Administrasi yang terlalu besar, contohnya penulisan laporan serta aktivitas ekstra lainnya, kerap membuat perhatian para guru tersita dari tujuan pokok mereka yakni mendidik murid-murid.

Beban administrasi yang tak proporsional terhadap waktu yang ada mengakibatkan penurunan mutu belajar dalam kelas. Ini bisa memiliki dampak luas bagi sistem pendidikan di tanah air dan akhirnya merugikan standar pendidikan anak-anak bangsa kita ke depan.

Pemegang kekuasaan harus menetapkan regulasi baru guna menciptakan kemajuan dalam nasib para pendidik, seperti memberi upah sepadan dengan gaya hidup minimum, menghilangkan tugas administratif tak penting, serta melindungi semua guru secara sosial, khususnya mereka yang bertugas di wilayah pedalaman atau institusi swasta.

Share with your friends

Give us your opinion

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done